Singapore Airlines Tawarkan Kompensasi Rp400 Juta ke Korban Turbulensi

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Singapore Airlines menawarkan kompensasi hingga 25 ribu dolar AS alias sekitar Rp 407,5 juta untuk korban luka akibat insiden turbulensi parah dalam penerbangan Inggris-Singapura pada Mei lalu.

Pihak maskapai menyatakan, penumpang nan mengalami luka ringan ditawari kompensasi sebesar 10 ribu dolar AS alias setara 163 juta.

Sementara penumpang nan mengalami cedera serius dapat dapat mendiskusikan kompensasi untuk memenuhi kebutuhan spesifik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penumpang nan dinilai secara medis mengalami cedera serius, memerlukan perawatan medis jangka panjang, dan meminta support finansial bakal diberikan pembayaran di muka sebesar 25 ribu dolar AS untuk memenuhi kebutuhan mendesak mereka nan bakal menjadi bagian dari penyelesaian akhir," kata maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan dilansir dari Reuters, Selasa (11/6).

Maskapai mencatat tiga minggu usai kejadian pada 20 Mei lalu, 11 penumpang tetap menerima perawatan medis di rumah sakit di Bangkok.

Seorang penumpang berumur 73 tahun meninggal lantaran dugaan serangan jantung dan puluhan lainnya terluka setelah penerbangan SQ321 mengalami turbulensi parah hingga melakukan pendaratan di Bangkok, Thailand.

Sebuah rumah sakit di Bangkok nan merawat penumpang mengatakan ada cedera tulang belakang, otak, dan tengkorak.

Singapore Airlines mengatakan bakal mengembalikan duit tiket penumpang dan memberikan kompensasi atas keterlambatan tersebut sesuai dengan peraturan Uni Eropa alias Inggris nan mencakup tiket mereka.

Perjanjian internasional, Konvensi Montreal, membikin maskapai penerbangan bertanggung jawab atas cedera bentuk akibat kecelakaan pada penerbangan internasional, termasuk turbulensi, terlepas dari apakah mereka lalai alias tidak.

Jika penumpang mengusulkan tuntutan hukum, maskapai penerbangan tidak dapat menggugat tukar rugi hingga sekitar 175 ribu dolar AS.

"Namun jika tukar rugi nan lebih besar diminta, Singapore Airlines dapat mencoba membatasi tanggung jawab dengan membuktikan bahwa pihaknya mengambil semua tindakan nan diperlukan untuk menghindari turbulensi," kata pengacara.

Pengacara klaim perjalanan, Peter Carter, mengatakan firmanya nan berbasis di Australia, Carter Capner Law, nan mewakili beberapa penumpang, sangat memperhatikan laporan kecelakaan mengenai jenis turbulensi dan apakah pilot dapat menghindarinya.

(pua/pua)

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnnindonesia.com
cnnindonesia.com