Bea Cukai Akan Bebaskan Alat Belajar Siswa Tunanetra SLB Usai Tertahan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

CNN Indonesia

Minggu, 28 Apr 2024 07:40 WIB

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) memastikan bakal membebaskan bea masuk perangkat pembelajaran siswa tunanetra nan viral. Ilustrasi. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) memastikan bakal membebaskan bea masuk perangkat pembelajaran siswa tunanetra nan viral. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Jakarta, CNN Indonesia --

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) memastikan bakal membebaskan bea masuk perangkat pembelajaran siswa tunanetra untuk SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta.

Alat berjulukan taptilo itu sempat tertahan saat dikirim dari Korea Selatan. Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Soetta Gatot Sugeng Wibowo mengatakan pihaknya saat itu tidak mendapatkan info bahwa peralatan tersebut merupakan hibah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelumnya dari pihak penerima tidak menyampaikan bahwa peralatan tersebut hibah," kata Gatot saat diwawancara, Sabtu (27/4).

Gatot mengungkapkan Bea Cukai Soetta saat ini tetap berkoordinasi dengan SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta dalam rangka mengurus akomodasi bebas bea masuk dan pajak.

Pihak Bea Cukai meminta sejumlah info lantaran peralatan impor itu atas hibah. Proses manajemen tersebut juga berkoordinasi dengan dinas mengenai dalam Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

"Kami sudah minta info mengenai kepada nan berkepentingan dan selanjutnya kami tetap koordinasi dengan pihak SLB dan dinas mengenai di Pemprov DKI guna memenuhi persyaratan mendapatkan akomodasi pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impornya atas hibah, Ujar Gatot.

Seorang penduduk sebelumnya sempat mengeluhkan perangkat pembelajaran siswa tunanetra untuk SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta ditahan oleh Bea dan Cukai Soetta. Alat berjulukan taptilo itu dikirim dari Korea Selatan.

Barang itu tiba di Indonesia sejak 18 Desember 2022, tetapi peralatan tersebut tertahan di Bea Cukai. Pihak sekolah diminta melengkapi sejumlah arsip dan ditagih ratusan juta untuk peralatan tersebut.

Dokumen nan dibutuhkan di antaranya link pemesanan nan tertara harga, invoice nan telah divalidasi bank, katalog nilai barang, nilai freight, dan arsip lainnya. Padahal, perangkat belajar itu berstatus hibah dan merupakan prototipe.

[Gambas:Video CNN]

(frl/end)

Sumber cnnindonesia.com
cnnindonesia.com