Update! Guru dan Kepala Sekolah Wajib Tahu Tentang Hal Ini di Kurikulum Merdeka Belajar dari Kemdikbud

Pendidikan, Padangbulan.co.id – Kabar terbaru bagi para guru dan pengelola sekolah terkait penerapan Kurikulum Pembelajaran Mandiri.

Kabar tersebut memuat bahwa Kemdikbud saat ini sedang booming baru terkait penerapan Raport Siswa pada Kurikulum Belajar Mandiri. Kursus ini perlu dipahami oleh semua guru dan administrator sekolah

Read More

Dalam Kurikulum Belajar Mandiri, ada dua jenis raport untuk satu siswa yang penting untuk diketahui oleh semua guru dan pengelola sekolah.

Dua jenis Raport Siswa Tunggal dalam Kurikulum Pembelajaran Mandiri ini tentunya berbeda dengan Rapor Siswa sebelumnya.
Sebelumnya, siswa hanya menerima satu jenis raport untuk setiap silabus yang diterapkan.

Lalu apa dua raport yang diberikan kepada satu siswa? Baca artikel ini sampai selesai.

1. Raport intrakurikuler

Rapor intrakurikuler adalah rapor hasil belajar siswa pada setiap mata pelajaran yang dipelajari siswa

Rapor ini akan diberikan kepada mahasiswa setiap semester atau setiap enam bulan sekali.

Rapor ini awalnya ditampilkan dalam bentuk Kartu Tanda Mahasiswa dan ada penambahan bagian “Tahap” di kolom ID.

Raport intra kurikuler juga memiliki kelebihan, yaitu penyajiannya tampak lebih sederhana karena apa yang dijelaskan dalam raport hanya berkaitan dengan topik yang dipelajari siswa, nilai akhir dan pencapaian kecakapan. telapak. Oleh karena itu, rapor intrakurikuler ini hanya berisi dua halaman.

2. Rapor Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Berbeda dengan rapor intrakurikuler, Laporan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila akan diserahkan kepada Pelajar pada akhir semester rangkap, atau dengan kata lain hanya disampaikan setahun sekali.

Penyajian rapor Proyek Peningkatan Profil Pelajar Pancasila juga terbilang sederhana, yaitu hanya terdapat keterangan pada bagian Identitas Pelajar, Kegiatan 1, kriteria Kegiatan 1, dan kolom Nilai.

Seperti diketahui, pada pendekatan pembelajaran mandiri terjadi pengurangan jam yang dilakukan tatap muka dan jam yang tersisa diubah menjadi jam proyek.

Misalnya dalam mata pelajaran agama. Jika kurikulum 13 mata pelajaran agama sebelumnya 3 jam, maka kurikulum pembelajaran mandiri dibagi menjadi dua jam tatap muka dan jam sisanya menjadi jam proyek.

Oleh karena itu, dalam kurikulum pembelajaran mandiri terdapat dua metode pembelajaran yang diterapkan, yaitu dalam kurikulum berupa pembelajaran tatap muka dan metode penguatan berupa proyek penguatan berkas Pancasila.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi semua guru dan kepala sekolah.

McD

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.