Pelaku Dugaan Pencabulan Di Jombang Agendakan Event Musik Besar, Ketua WCC Buka Suara

Jombang, Padang bulan.co.id MSAT (41), yang jadi buronan Polda Jawa Timur dalam kasus dugaan pencabulan terhadap santrinya sendiri sedang ramai diperbincangkan di sejumlah media sosial mengenai agenda konser musik jazz.

Di laman akun @musiksehattentrem mengagendakan event bertajuk ‘Jazz Rakyat Fest 2022’ yang  juga bisa ditonton masyarakat umum dengan hanya membeli tiket Rp 17 ribu.

Read More

Pada laman akun tersebar adanya foto MSAT yang diduga bakal mengisi acara bersama bandnya.

Kabarnyanya, konser tersebut bakal di gelar di lingkungan Pondok Pesantren Shiddiqiyyah yang berada di Desa Losari Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur pada 31 Mei 2022.

Selain MSAT, beberapa artis yang jadi promosi dalam konser tersebut seperti Hawapink, Indro Hardjodikoro Project ft. Sruti Respati, Rio Sidik Quintet ft. Marina Sidik serta Syaharani & Queenfireworks dan juga Musik Metafakta Oxytron yang diduga merupakan band yang berisikan MSAT.

Hal ini menjadi polemik tersendiri pasalnya, MSAT sendiri merupakan Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus pencabulan yang hingga kini masih bebas dan belum ditangkap Polda Jatim yang mengambil alih kasus ini dari Polres Jombang.

Direktur Woman Crisis Centre (WCC), Ana Abdillah mengkritik kinerja kepolisian yang justru jadi penonton dalam proses pencarian terhadap MSAT yang dijadikan DPO kepolisian.

“Ini juga menjadi preseden yang buruk bagi aparat penegak hukum, terlebih pelarangan konser dari Pemkab Jombang hanya karena alasan Covid-19,” katanya, Senin (30/5/2022).

Menurutnya, agenda konser yang melibat DPO kasus hukum bisa mencoret kepolisian yang seakan – akan hanya diam meski sudah mengetahui keberadaan MSAT.

Ana menilai, jika konser ini menunjukan gelagat perlawanan tersangka terhadap aparat kepolisian yang kini sebenarnya sedang memburu tersangka untuk tahap penanganan hukum selanjutnya.

“Yang jadi sorotan adalah kinerja penegak hukum. Pertanyaanya adalah, berani atau tidak, gagap atau tidak, kepolisian untuk segera mengambil tindakan. Jangan sampai simpang siur di masyarakat dalam tanda kutip membenarkan adanya asumsi bahwa dia (tersangka) kebal hukum, “ terang Ana.

Selain rencana agenda konser itu, sebelumnya juga ada sejumlah agenda musik yang dilakukan MSAT melalui media sosial.

WCC mencatat, jika selama ini MSAT memang dianggap tak patuh hukum. Sebab, sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian, MSAT tak pernah sekalipun mematuhi panggilan polisi.

Ditambah lagi soal aktivitas tersangka yang terus menunjukan dirinya kepublik menjadi salah satu contoh jika aparat penegak hukum masih belum maksimal.

“Dengan adanya konser tersebut, saya kira Ditreskrimum dan Intel Polda Jatim juga mendapati banyak aduan – aduan dari masyarakat sipil. Nah sampai kapan persoalan ini tidak tuntas, “ tandasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.