Penanganan Kegawatdaruratan di IGD RSUD Kabupaten Jombang Semakin Terdepan

Jombang, Padangbulan.co.id – Program Humas RSUD Jombang menyapa kembali melakukan Talkshow pada kamis (26/08/2021). Narasumber yang diundang adalah seorang lulusan tahun 2006 dari Universitas Hang Tuah Surabaya yaitu dr. Dewi Nugrahini yang biasa disapa dr. Nina. Dengan tema kegawat daruratan, dr. Nina menjelaskan secara rinci tentang hal tersebut terutama dengan fasilitas kegawat daruratan di RSUD Jombang.

Dalam penjelasanya, kegawat daruratan atau bisa disebut IGD (Instalasi Gawat Darurat) merupakan pelayanan terdepan bagi pasien yang memerlukan penanganan cepat. Maka dibutuhkan juga peran dokter jaga IGD yang handal.

Dr. Nina menambahkan, Pelayanan penderita gawat darurat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jombang memberikan pelayanan 24 jam, dengan tenaga ahli kegawat daruratan yang profesional dan kompeten di bidangnya.

“Para pasien yang datang ke IGD kita tentu punya kondisi yang bermacam-macam, kami melaksanakan pelayanan bukan seperti di bagian poli yang mempunyai antrian akan tetapi kami akan melakukan pengecekan dan screening dengan beberapa kondisi pasien dengan kriteria P1, P2 dan P3”. Jelas dr. Nina.

IGD RSUD Jombang melayani kegawat daruratan dengan sistem Triage, yaitu pelayanan akan yang diberlakukan berdasarkan tingkat ancaman atau kegawatan yang terbagi serta dikelompokkan menjadi 3 golongan terdiri dari P1, P2, P3.

Lebih lanjut, Prioritas 1 (P1) yaitu kondisi yang mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Lalu Prioritas 2 (P2) yaitu kondisi yang berpotensi mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam waktu singkat. Penanganan atau pemindahan bersifat jangan terlambat. Prioritas 3 (P3) yaitu kondisi yang perlu penanganan seperti penanganan biasa, tidak perlu segera serta bersifat terakhir.

Lebih jauh dr. Nina juga menjelaskan tentang pelayanan IGD dengan beberapa kategori mulai dari gawat, Darurat, Gawat Darurat, Tidak Gawat dan Tidak darurat. Dalam dunia medis, suatu keadaan disebut gawat apabila sifatnya mengancam nyawa namun tidak memerlukan penanganan segera. Contohnya adalah pasien yang menderita penyakit kanker. Penyakit kanker adalah penyakit yang bisa mengancam nyawa seseorang, namun tidak terlalu membutuhkan tindakan sesegera mungkin (immediate treatment). Biasanya keadaan gawat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit yang sifatnya kronis, seperti pada kanker serviks.

Selain gawat, ada juga keadaan yang disebut dengan darurat. Keadaan ini terjadi jika seorang pasien membutuhkan penanganan setelah datang di IGD . Meskipun keadaan darurat tidak selalu mengancam nyawa, namun penanganan yang lambat bisa saja berdampak pada terancamnya nyawa seseorang. Contohnya adalah pasien dengan nyeri dada hebat, pasien yang sedang mengalami pendarahan hebat, menderita patah tulang akibat kecelakaan, kehilangan cairan karena diare hebat, dan kejang. Biasanya keadaan darurat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit yang sifatnya akut.

Namun keadaan gawat dan darurat bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan. Dalam kasus ini nyawa pasien benar-benar dalam keadaan yang mengancam nyawa dan diperlukan penanaganan yang sangat segera setelah tiba di IGD. Contoh untuk kasus ini adalah apabila seseorang yang telah menderita penyakit jantung dalam waktu yang lama dan tiba-tiba mengalami serangan jantung (heart attack), pasien henti napas dan koma.

Nah, selain itu ada juga pasien yang datang ke IGD dengan keadaan yang tidak gawat dan tidak darurat. Artinya pasien berada dalam kondisi bukan suatu kegawatan sehingga pasien akan diperiksa setelah pasien dengan kategori gawat darurat, gawat, dan darurat tertangani. Contohnya adalah pasien yang datang dengan gatal, ruam, rasa nyeri ringan, batuk pilek tanpa adanya sesak nafas, benda asing yang masuk ke mata, dan kondisi lainnya.

RSUD Jombang dalam pelayanan IGD terutama dalam masa Pandemi COVID-19 tentu punya prosedur khusus yang sangat ketat dan teliti.

Tentunya bila ada pasien yang datang dengan gelaja dan diduga serupa dengan Covid-18 makan akan di lakukan skrining atau pengecekan triase di dropzone IGD.

Sebagai tambahan, dr. Nina juga menjelaskan bahwa ada ruangan khusus di utara IGD yang dikhususkan untuk pasien Covid yang datang dari rujukan atau dari bukti swab tes yang positif COVID-19.

Mengenai tenaga kesehatan yang berjaga di IGD RSUD Jombang. dr. Nina menjelaskan bahwa ada 18 tenaga kesehatan yang bertugas dengan jadwal shift yang berbeda-beda. Hal ini juga disesuaikan dengan kebutuhan di IGD supaya penangan terhadap pasien kegawat daruratan bisa ditangani dengan maksimal dan segera.

“Jangan pernah takut untuk datang ke IGD RSUD Jombang dan jangan pernah takut untuk di Covid kan karena kami mendiagnosa suatu penyakit pada pasien pasti berdasarkan data yang ada, jadi tidak mungkin kami mengkovidkan pasien jika memang tidak covid. Kami juga sudah menyediakan gedung khusus untuk pasien COVID-19 dan non COVID-19 secara terpisah dan dengan tenaga kesehatan berAPD dengan baik agar virus tidak menyebar.” Harap dr. Nina.

“Karena kesadaran masyarakat juga adalah kunci keberhasilan pemerintah dalam membasmi virus covid-19 di Indonesia” Pungkas dr. Nina.

(McD/MDA)

Leave a Reply

Your email address will not be published.